SIGN IN
PT. Anugerah Surya Jaya
Civil Consultant

Daftar Perusahaan Tambang Batu Bara Di Indonesia

16 Jun 2021

Bekerja di perusahaan tambang merupakan salah satu tempat kerja yang menjadi impian banyak orang. Selain dikarenakan ketertarikan akan hal-hal yang berkaitan dengan dunia tambang, perusahaan tambang pun menawarkan fasilitas berserta income yang dapat mensejahterakan kehidupan karyawannya.

Adapun salah satu kategori perusahaan tambang yang diminati yaitu bekerja di perusahaan tambang batu bara. Namun sebelum memilih untuk berkarir di dunia tambang batu bara ada baiknya agar kita mengetahui terlebih dahulu besaran peluang bekerja di perusahaan dengan kategori tersebut.

Berikut daftar sejumlah perusahaan yang termasuk kedalam kategori sebagai produsen batu bara di Indonesia.

Kaltim Prima Coal
Perusahaan batu bara yang satu ini adalah salah satu produsen terbesar batu bara di Indonesia. Kaltim Prima Coal atau KPC bergerak di sektor pertambangan dan pemasaran batu bara buat kebutuhan industri, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Kaltim Prima Coal berkantor pusat di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Pemerintah Indonesia memberi izin ke KPC buat mengelola area konsesi pertambangan yang luasnya mencapai 90.938 hektar di wilayah Sangatta dan Bengalon.

Sebagian besar saham KPC dipegang PT BUMI Resources Tbk. Sepanjang tahun 2017, anak usaha BUMI ini udah memproduksi 57,6 ton batu bara. Seperti yang dilaporkan Warta Ekonomi, laba bersih KPC tahun 2017 mencapai US$ 271,01 juta atau Rp 3,79 triliun.

Adaro Indonesia
Adaro Indonesia adalah salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia. Perusahaan yang udah ada sejak tahun 1966 ini mendapat konsesi dari Pemerintah Indonesia di wilayah di Kalimantan Selatan.

Di area konsesi tersebut, menurut yang diinformasikan di website resminya, Adaro Indonesia memiliki tiga pertambangan, yaitu Tutupan, Paringin dan Wara. Dari pertambangan yang dimiliki Adaro, produksi batu baranya sepanjang tahun 2018 mencapai 54 juta ton.

Dari informasi yang dilaporkan Bisnis Indonesia, Adaro Indonesia mencatatkan pendapatan sebesar US$ 2,66 miliar atau Rp 37 triliun hingga September 2018.

Adaro sendiri tercatat sebagai perusahaan terbuka. Sekitar 43 persen sahamnya dimiliki PT Adaro Strategic Investments. Sementara sisanya dimiliki publik dan Garibaldi Thohir, saudara dari Erick Thohir.

Berau Coal
Berau Coal didirikan pada tahun 1983 dan berpusat di wilayah Berau, Kalimantan Timur.

Sebelumnya, perusahaan ini dikenal dengan nama PT Risco. Pada 2010, namanya kemudian berganti menjadi Berau Coal.

Berau Coal sendiri bergerak di sektor pertambangan dan perdagangan batu bara. Perusahaan ini mendapat konsesi seluas 118.400 hektar di Kabupaten Berau, Samarinda, Kalimantan Timur.

Kepemilikan saham perusahaan ini sebagian besar dikuasai Vallar Investment UK Limited. Lalu, sisanya dimiliki Sinarmas Group melalui Asia Resource Minerals Plc. Tahun 2016, Berau Coal mencatatkan produksi sebesar 26 juta metrik ton.

Kideco Jaya Agung
Kideco Jaya Agung yang termasuk perusahaan batu bara terbesar di Indonesia. Pada 2017, mayoritas saham Kideco Jaya Agung dikuasai PT Indika Energy Tbk.

PT Indika Energy Tbk. menjadi pemilik 91 persen saham Kideco Jaya Agung. Sementara itu, sisanya dimiliki Samtan Co., Ltd.

Kideco Jaya Agung mulai beroperasi sejak 1982. Area pertambangan perusahaan batu bara ini berada di Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. Hingga September 2018, produksi batu bara Kideco Jaya Agung telah mencapai 26,1 juta metrik ton.

Arutmin Indonesia
Sebelumnya Arutmin berstatus sebagai pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang masa kontraknya sudah berakhir pada 1 November 2020. Lalu, pada 2 November 2020, pemerintah melalui Menteri ESDM telah memberikan perpanjangan izin operasi 10 tahun pertama, sehingga status Arutmin kini berubah menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) sebagai kelanjutan operasi kontrak/perjanjian.

Saat evaluasi pemberian IUPK, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM memutuskan menciutkan wilayah konsesi Arutmin sebanyak 40,1% dari luas wilayah Arutmin saat masih berstatus PKP2B.

PT Arutmin Indonesia memiliki tambang yang berlokasi di Satui, Senakin, Batulicin, dan Asam-asam, Kalimantan Selatan dengan luas mencapai 57.107 hektare (ha). Dengan penciutan 40,1% maka wilayah konsesi dari anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) itu berkurang sekitar 22.900 ha.  Dengan begitu, luas wilayah konsesi batubara Arutmin kini tinggal sekitar 34.207 ha.

PT. Bukit Asam Tbk (PTBA)
Dulunya bernama PN TABA, namun setelah berubah status jadi Perseroan Terbatas, nama mereka menjadi PT Bukit Asam (Persero). Di tahun 2002, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara ini melantai di bursa saham.

PTBA memiliki beberapa anak usaha, sebut saja seperti PT Bukit Energi Investama, PT Bukit Pembangkit Innovative, PT Bukit Asam Prima, dan beberapa perusahaan lainnya.

Sebanyak 65,93 persen saham PTBA dipegang oleh Inalum, sedangkan 30,37 persennya diperuntukkan bagi publik. Nilai kapitalisasi pasar PTBA juga cukup besar yaitu Rp 28 triliun pada Maret 2020. Meskipun di tahun 2019 batu bara lesu, mereka berhasil membukukan laba Rp 4 triliun.

Indominco Mandiri
Sebuah perusahaan pertambangan batu bara yang berada di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Berdiri dan mulai beroperasi pada tahun 1997, disusul selesainya konveyor pelabuhan batu bara pada tahun 1999.

Perusahaan ini kini dimiliki secara penuh oleh Somyot Ruchirawat seorang pengusaha asal Indonesia keturunan Cina. Dia juga menjabat sebagai komisioner perusahaan telekomunikasi di Malaysia, Maxis Communications Berhad. Monagisa Chandra adalah anak pertamanya yang juga ikut andil peran dalam peningkatan kerja dan kualitas perusahaan. Dia menjabat sebagai general manager Indominco Mandiri sejak Mei 2010.

Borneo Indobara
PT Borneo Indobara (BIB) merupakan anak usaha dari Sinar Mas Group dengan lokasi tambang berada di Kalimantan Selatan.

Selain daftar tersebut diatas masih banyak perusahaan tambang batu bara lainnya, seperti:
Adimitra Baratama Nusantara, Aldiron Petra, Allied Indo Cal, Antang Gunung Meratus, Anugerah Bara Kaltim, Asmin Koalindo Tuhup, Asmin Bara Bronang, Astaka Dodol, Bahari Cakrawala Sebuku, Bangun Banua Persada Kalimantan, Baradinamika Muda Sukses, Baramutiara Prima, Barasentosa Lestari, Batubara Duaribu Abadi, Bhakti Energi Persada, Bharinto Ekatama, Bhumi Rantau Energi, Binamitra Sumberarta, Borneo Indobara, Bukit Baiduri Energi, Bukit Sunur, Bumi Resources Tbk, Berkat Satria Gemilang, Daya Bumindo KaruniaDelma Mining Corporation, Energi Cahaya Industritama, Fajar Bumi Sakti, Ferindo Artha Empatbara, Gunung Bayan Pratama Coal, Gasim Pradana Selaras(GPS coal), Indominco Mandiri, Indomineratama Prayasa, Indomining, Insani Bara Perkasa, Interex Sacra Raya, Intirta Primasakti, Jembayan Muarabara, Jorong Barutama Greston, Juloi Coal, Kalimantan Energi Lestari, Kaltim Prima Coal, Karbindo Abesyapradhi, Kartika Selabumi Mining, Karya Bumi Baratama, Kideco Jaya Agung, Kitadin, Lanna Harita Indonesia, Mahakan Sumber Jaya, Manambang Muara Enim, Mandiri Inti Perkasa, Manunggal Inti Artamas, Marunda Graha MineralMedia Djaya Bersama, Muara Alam Sejahtera, Multi Harapan Utama, Muturi Indah Persada, Nuansacipta Coal Investment, Nusantara Berau Coal, Padangbara Sukses Makmur, Pendopo Energi Batubara, Perkasa Inakerta, Pesona Khatulistiwa Nusantara, Pipit Mutiara Jaya, Putra Muba Coal, Riau Bara Harum, Santan Batubara, Sari Andara Persada, Satui Bara Tama, Semesta Centramas, Singlurus Pratama, Sriwijaya Bintang Tiga Energi, Sumber Kurnia Buana, Supra Bara Energi, Swadaya Hutani Alam, Tanito Harum, Tekno Orbit Persada, Titan VenturesTunas Inti Abadi, Victor Dua Tiga Mega.

Share To :